Apa Itu Manajemen Diri?

Sebelum lebih jauh membicarakan Manajemen Diri (selanjutnya disingkat MD) mari kita rumuskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Manajemen Diri itu. Manajemen merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, manage yang berarti mengatur. Sedangakan diri adalah segala sesuatu yang kita miliki yang menurut hemat penulis berkaitan dengan hal ini terdapat tiga hal penting yaitu, Aqal, Jism (tubuh, jasmani) dan Ruh (hati, ruhani). Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan pengertian sederhana bahwa yang dimaksud dengan Manajemen Diri adalah upaya untuk mengatur, memaksimalkan peran segala sesuatu yang kita miliki (aqal, jism dan ruh) guna mencapai kebahagian di dunia dan akhirat.

Mengapa Perlu Manajemen Diri?

Untuk menjawab pertanyaan di atas mari kita perhatikan apa yang pernah disampaikan oleh Imam Ali ra berikut ini:

الحق بلا نظام يغلبه الباطل بنظام

Artinya: “Kebenaran yang tidak ter-manage, akan dikalahkan oleh kebatilan yang di-manage”.

Dari sini kita paling tidak dapat menarik satu pelajaran penting, bahwa segala sesuatu apapun termasuk kejahatan bila di-manage sedemikian rupa, maka akan mencapai “kemenangan” bahkan akan dapat mengalahkan kebenaran yang tidak di-manage sebaik mungkin.

Dalam keterangan lain, baik itu ayat al-Qur’an maupun al-Hadits, disebutkan bahwa kelak di hari kiamat para penghuni neraka terperanjat dan menyesal tiada tara, karena kehidupan tanpa disadari telah berubah dari kehidupan dunia yang fana menjadi kehidupan  akhirat yang kekal tidak mengenal waktu. Sehingga mereka mengatakan kepada Alloh SWT,

رب ارجعوني نعمل صالحا غير الذي كنا نعمل

Artinya: “Ya Allah, kembalikanlah kami (ke dunia lagi), niscaya kami akan melakukan amal shaleh dan tidak akan melakukan kembali apa yang telah kami perbuat (perbuatan dosa).”

Kenapa mereka mengatakan demikian? Karena mereka tidak me-manage diri mereka sedemikian rupa, target mereka tidak jelas karena tujuan dari apa yang harus dilakukan ketika di dunia, mereka hanya memikirkan kehidupan dunia saja.

Tahukah orang-orang yang anda idamkan sekarang misalnya Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Habibie, BillGate dan lainnya pada dasarnya adalah sama dengan anda?. Mereka ketika dilahirkan tidak berbusana, menangis, tidak bisa bicara, tidak tahu apa-apa bahkan mungkin lebih parah dari anda, mereka lahir tanpa bapak, dan ekonomi keluarga yang sangat tidak mencukupi kebutuhan. Tahukah anda kondisi Imam Syafi’i saat masih kecil? Ia dilahirkan sebagai anak yang ditinggal oleh bapak nya (yatim), karena tidak berapa lama setelah lahir, ayahnya meninggal. Apakah dia orang kaya? Tidak. Imam Syafi’i kecil hidup dengan ibunya dalam kemiskinan yang benar-benar serba tidak mencukupi. Ibunya, tidak bisa membayar guru ngaji, bahkan juga tidak mampu untuk membelikan buku tulis untuk putranya, Imam Syafi’i. Karenanya Imam Syafi’i terpaksa menulis catatan ngajinya di tulang-tulang yang berserakan. Imam Syafi’i ketika kecil juga sama seperti anda, belum bisa membaca, menulis, terlebih lagi berdebat. Jangan pernah berpikir bahwa ketika Imam Syafi’i lahir langsung bisa berkata, misalnya,

الأصل في الامر للوجوب

“Pada asalnya, perintah itu menunjukkan wajib”.

Jangan pernah pula mengira, bahwa ketika Habibie lahir, langsung pandai berbahasa indonesia, Inggris dan Jerman. Sekali  lagi tidak. Mereka sama dengan anda, tidak tahu apa-apa.

Manajemen Diri

Bila kita sudah tahu bahwa mereka adalah sama, lantas mengapa mereka bisa “hebat” dan sukses dalam hidupnya? Jawabannya satu, mereka pandai me-manage diri. Apakah kita bisa seperti mereka? Jawabannya tentu sangat bisa, selama kita bisa me-manage potensi diri yang kita miliki.  Dari sini kita dapat menarik satu pelajaran teramat penting kembali bahwa dengan manajemen diri, hidup dan langkah anda menjadi jelas dan terarah, penuh makna dan tentunya akan mengahantarkan anda menjadi orang sukses  sebagaimana yang telah diraih oleh orang-orang yang dikisahkan di atas.

Manajemen Diri

Artikel ini di cari dengan Kata Kunci: